Media Purwakarta
Live
wb_sunny

Breaking News

Berawal dari Ngidam, Dendeng Daun Singkong, Jadi Oleh-oleh Purwakarta, Beromzet Jutaan

Berawal dari Ngidam, Dendeng Daun Singkong, Jadi Oleh-oleh Purwakarta, Beromzet Jutaan

Chriftylia Firjayanti (32) Wanita asal Pasawahan, Purwakarta, membuat inovasi dendeng daun singkong yang sekarang jadi oleh-oleh Purwakarta
MediaPurwakarta.com | Pasawahan - Wanita asal Pasawahan, Purwakarta, Chriftylia Firjayanti (32) yang gemar memakan dendeng daun singkong membuat inovasi dendeng daun singkong yang sekarang jadi oleh-oleh Purwakarta. Kini dendeng daun singkong yang bisa mendapatkan omzet kotor hingga Rp10 juta per bulan.

Idenya itu berawal dari ngidam saat hamil sejak tinggal di rumah mertuanya di Pekanbaru selama satu tahun.Setelah pulang ke Pasawasahan, Purwakarta, saya ngidam itu tapi di sini tidak ada.

"Akhirnya saya buat untuk sendiri ternyata banyak yang suka," katanya, Selasa, 5 November 2019.

Ia pun membuat keputusan untuk menjual masakannya itu muncul setelah melihat potensi daun singkong yang melimpah di sekitar rumah orang tuanya. Setelah empat kali percobaan memodifikasi resep, akhirnya Chriftylia berhasil membuat produk dendeng daun singkong yang berbeda.

Yang menjadi pembeda dari masakan dendeng daun singkong khas Pekanbaru Riau yang basah ialah produk buatan Chriftylia itu sengaja dibuat kering. Tujuannya agar lebih tahan lama dan bisa dijadikan cemilan. Ibu beranak dua itu menamakan produknya dendeng daun singkong Incu Abah.

Seiring waktu, bisnisnya terus berkembang. Dari awalnya hanya dijual kepada orang-orang di sekitarnya, kini Chriftylia telah memasarkan produk tersebut di toko oleh-oleh Purwakarta, Galeri Menong.

"Untuk masuk ke sana ternyata ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dulu," tuturnya.

Menurutnya, salah satu persyaratannya ialah memiliki izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Untungnya, Chriftylia mengaku cukup mudah menjalani proses mengurus dokumen tersebut.


Ia pun mulai memasukkan produknya ke Galeri Menong pada 2017. Setelah dipasarkan di sana, Chriftylia mengaku bisa mendapatkan omzet yang lebih banyak hingga menghabiskan bahan baku daun singkong sebanyak 40 kilogram dalam sepekan. Produk dendeng daun singkong itu kini dijual seharga Rp13.000 per bungkus.

"Saya memproduksi dua kali dalam seminggu dibantu empat orang pekerja di rumah saya di Sadang," ujarnya.

Menurutnya, proses pembuatannya juga tergantung pada kondisi cuaca yang cerah untuk menjemur daun singkong yang telah diolah. Dimulai dengan memilih daun singkong muda yang berada di dekat pucuk. Chriftylia juga tidak menggunakan daun dari pohon singkong liar atau biasa disebut singkong karet.

Saat ini, ia tak hanya mendapatkan pasokan daun singkong dari sekitar kota Purwakarta, tapi hingga Jatiluhur dan Kiarapedes. Singkong tersebut kemudian direbus dalam waktu yang hampir sama seperti merebus daging agar lebih empuk.

Daun tersebut kemudian dicuci sampai warna hijaunya hilang. Proses itu dilakukan agar rasanya tidak pahit setelah jadi dendeng daun singkong. Selanjutnya, daun yang telah dicuci kemudian di peras sampai keluar sebagian besar airnya kemudian diiris-iris hingga lembut.

"Prosesnya itu semua masih dilakukan secara manual dengan tangan. Termasuk untuk bumbunya dibuat dengan cara ditumbuk agar lebih terasa teksturnya. Setelah dibumbui, daun lalu dikukus selama 25 menit baru di bentuk sesuai keinginan," kata Chriftylia menambahkan.

Kemudian Dendeng mentah itu kemudian dijemur di bawah terik matahari selama 1-3 hari tergantung kondisi cuacanya. Produk tersebut bisa tahan hingga berbulan-bulan di dalam kemasan. Sehingga, Chriftylia bisa memasarkannya hingga ke luar daerah seperti Bandung, Solo dan Probolinggo secara rutin.


(AK)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.