Jalin Siturahmi, Alumni Pasien Positif COVID-19 Purwakarta Bentuk Komunitas

Jalin Siturahmi, Alumni Pasien Positif COVID-19 Purwakarta Bentuk Komunitas


Monday, November 16, 2020

Mantan pasien COVID-19 di Purwakarta yang sudah sembuh
MediaPurwakarta.com | Ada hal yang unik dari sebuah kominitas di Purwakarta. Pasalnya komunitas ini beranggotakan dari pasien Coronavirus-Disease19 (COVID-19) yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ade Supyani, Ketua dari Alumni pasien yang baru beberapa waktu lalu dinyatakan sembuh menceritakan, asal mula tercetusnya ide pembentukan komunitas ini, berawal dari pertemuan mereka sesama pasien positif COVID-19 dari berbagai tempat isolasi.

"Anggotanya berasal dari di RS Abdul Radzak (MH Thamrin), RS Bayu Asih, Rumah Isolasi Maracang dan Hotel Aruni yang ada di Purwakarta yang sudah di nyatakan sembuh," ucap Ade. 

Menurutnya dari pertemuan itulah rupanya mereka yang sudah akrab satu sama lain seolah-olah enggan berpisah dan muncul sebuah ide untuk membentuk sebuah wadah sesama pasien positif COVID-19 untuk tetap terjalin tali silaturahmi.

"Sekarang saja tercatat sudah ada sekitar 125 orang yang bergabung dengan perkumpulan ini," ujar Ade Supyani, ketika sedang menerima kunjungan dari beberapa orang perwakilan anggotanya, Minggu (15/11/2020) sore, di Desa Bungursari, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta.

Ia menjelaskan, melalui wadah inilah kedepannya diharapkan oleh seluruh anggota dan pengurusnya, warga masyarakat luas akan diberikan pemahaman tentang apa yang harus dilakukan apabila berhadapan dengan penderita dan keluarga penderita COVID-19.

"Justru yang kami alami ketika dinyatakan positif COVID-19, malah di kucilkan oleh warga setempat, aktivitas sosial yang biasanya dilakukan otomatis dihentikan," ujar Ade

Ade membeberkan, seperti yang dialami oleh Bujang Sahmudar (47) warga Kampung Sukarata, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta kota ini misalnya. Dia harus menutup warung tempat usahanya untuk menjalani tes SWAB dan sebagainya, otomatis dia dan keluarganya harus tetap memenuhi kebutuhan hidupnya. 

"Bisa kita bayangkan betapa ketergantungan keluarganya terhadap usaha itu untuk menyambung hidup. Selama menjalani karantina dalam waktu 14 hari saja bisa terbesit dalam pikiran, selama itu pula mereka tak dapat berbuat apa-apa hanya bisa mengelus dada meratapi nasib keluarga dan sipenderita COVID-19. 

Ade mempertanyakan, apakah ada yang memikirkan mereka sekeluarga, bagaimana caranya keluarga mereka dapat bertahan hidup.

"Dengan kondisi itu mereka di kucilkan oleh warga sekitar, pantaskah hal ini dilakukan oleh masyarakat luas," tanya ketua Alumni pasien COVID-19 Purwakarta, kepada seluruh warga masyarakat luas.

Ade menambahkan, mari kita renungkan bersama-sama dengan kejadian seperti ini, dirinya juga mengajak dan membukakan mata hati kita, cobalah bermain rasa, andaikata yang terjadi itu adalah anda dan keluarga anda, sedihkah atau senangkah apabila di kucilkan oleh orang banyak.

Masih menurut dia, yang harus dilakukan oleh kita apabila positif COVID-19 yang pertama-tama adalah jangan sampai stres.

"Selain itu dengan memakan makan yang bergizi tinggi, perbanyak konsumsi makanan bervitamin yang dapat menambah imunitas tubuh, jangan lupa lakukan kegiatan olahraga dan mesti happy, berkonsultasilah dengan dokter/perawat," pesan mantan pasien positif COVID-19 Purwakarta. (MP/YB)